Kopi Miracle

Jual Kopi Miracle

Jual Kopi Miracle. Kami toko online yang menyediakan kopi premium miracle dengan harga kompetitif. HANYA 230.000,-. Kami jamin harga kami lebih dan paling murah. Barang Original.

Kami sudah berpengalaman melayani konsumen dari berbagai kota di Indonesia. Kami siap mengirim kopi miracle sampai di tempat anda.

Branch Office kami ada di Surabaya.

Untuk cabangnya, kami buka di Cilegon. Silakan hubungi kami jika berminat di 081328998215

Harga Super Murah Barang ORIGINAL

Rp. 300.000,- / 1 box
Rp. 275.000,- / 1 box untuk pembelian 2-4 box
Rp. 250.000,- / 1 box untuk pembelian 5-9 box
Rp. 230.000,- / 1 box untuk pembelian 10 box lebih

Sejarah Kopi Break

Penelitian di MIT pernah menghasilkan suatu penemuan yang sangat menyarankan untuk diberlakukannya coffee break – atau setidaknya istirahat dari aktifitas –, yang merupakan bagian penting dari proses belajar.

Riset dilakukan dengan memindai tikus percobaan sehingga pihak MIT (Massachusett Institut of Technology) dapat melihat pola elektrik yang menghidupkan otak mereka ketika berlari melalui lorong labirin. Yang mereka temukan adalah ketika tikus berlari dalam track terdapat bagian otak tertentu yang selalu menyala. Lebih mengejutkan, ketika tikus beristirahat setelah menyusuri track, serta merta bagian tertentu tadi secara tepat kembali menyala di dalam otak, dengan terbalik dan berulang-ulang, sekitar dua puluh kali dari kecepatan semula. MIT berpendapat bahwareplay itu membantu tikus untuk mengenali pengalaman yang baru didapatnya.

Tentu saja, kita tidak sungguh membutuhkan MIT untuk memberitahukan kita bahwa coffee breakpenting untuk bisnis. Pekerja yang baik akan mengetahui bahwa istirahat dalam kerja dapat meningkatkan produktifitas. Tak seorang pun dapat memastikan kapan istirahat diasosiasikan dengan kopi, tetapi sejarah penemuan mesin espresso, memberikan kita petunjuk.
Hal itu terjadi di tahun 1901, ketika seorang Italia pemilik pabrik bernama Luigi Bazzera mencari cara untuk mempercepat para pekerjanya menghabiskan waktu Coffee Break. Menyadari bahwa bila dia dapat menyajikan kopi lebih cepat, para pekerjanya dapat minum dengan segera dan kembali bekerja lebih cepat lagi. Idenya tidak hanya sebatas itu, akhirnya berlanjut pada ide bentuk mesinnya.
Idenya untuk mem-pressure air panas melewati kopi bubuk menggunakan tekanan merupakan cara yang sama sekali baru untuk meyajikan kopi.

Dalam waktu hampir bersamaan, Buffalo, sebuah perusahaan di New York membuat sejarah coffee break. Pada tahun1902, Barcelo Manufacturing Company –kemudian berganti nama menjadi Barcolounger- secara resmi menyatakan coffee break merupakan bagian penting untuk para pekerjanya. Berdasarkan cerita surat kabar di saat itu, para pekerja bernegosiasi untuk dapat beristirahat singkat di pagi dan sore hari dan salah satu pekerja dengan sukarela memanaskan kopi di atas plat besi pada waktu istirahat ini. Dan nama dari “coffee break” resmi pertama kali dicetuskan. Perusahaan Buffalo yang lain menyatakan bahwa di tahun 1901 mereka menyediakan kopi gratis untuk karyawan-karyawannya.

Sampai tahun 1964, coffee break menjadi isu nasional Amerika. Pada Juni tahun itu, majalah Time melaporkan adanya negosiasi antara United Auto Workers dan The Big Three. Sebagai isu adalah lima belas menit mematikan mesin sehingga para pekerja dapat menikmati coffee break. Menurut wakil presiden UAW Leonard Woodcock, “Kami mendapatkan coffee break disepanjang lini kerja di seluruh dunia. Hanya USA yang tidak memiliki coffee break di lini produksinya.” Isu lain dari negosiasi historik ini adalah melibatkan mengenai asuransi kesehatan, tunjangan pasca kerja, dan 5% kenaikan gaji; tapi isu coffee break yang hampir membuat mogok kerja. Time melaporkan, pada bulan September 74.000 pekerja Chrysler meminta untuk istirahat kurang dari satu jam sedangkan perusahaan memberikan jalan tengah dan setuju untuk 12 menit sehari coffee break.

Saat ini, sebagian besar pekerja kontrak secara khusus mendapatkan setidaknya sekali coffee breaksetiap sift 8 jam, dan banyak perusahaan mendapati bahwa menyediakan kopi gratis untuk karyawan selama coffee break sangat bermanfaat, keuntungan dengan bermodal sedikit. Pada tahun 2001 seorang Psikolog Organisasi, Proffesor Cary Cooper dari Lancester University menilai bahwa menawarkan gratis kopi atau teh pada pekerja selama coffee break berarti, “Perusahaan yang peduli pada penyediaan kopi atau teh gratis adalah simbol dari perilaku manajemen. Pekerja yang meminta refresing gratis sesungguhnya berkata ‘hargai saya’”.

Ada juga suatu riset lain, poling dilakukan oleh Harris Interactive pada pekerja di USA menemukan bahwa:

  • 80% perkeja di USA berdasarkan survey merasa lebih dihargai ketika diberi kopi gratis.
  • 76% merasa kopi dapat membuat rileks.
  • 79 % mengatakan bawa mereka lebih produktif ketika mereka mendapat akses kopi.

Menyediakan pilihan kopi atau minuman lain di ruang coffee break berongkos sekitar $1-2 perhari per pekerja. Dan menghasilkan keuntungan lebih tinggi daripada program intensif yang lainnya.


Penyebaran Kopi Ke Seluruh Dunia

Kopi pada awalnya tumbuh di tanah Arab, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia:

Kopi Memasuki Asia
Kolonial Belanda membudidayakan kopi di Malabar India, dan pada tahun 1699 membawa bibitnya ke Batavia di Jawa (Java), Indonesia. Beberapa tahun kemudian, kolonial Belanda menjadi pemasok utama kopi ke Eropa. Sekarang, Indonesia adalah negara eksportir kopi peringkat keempat terbesar di dunia.

Kopi Memasuki Eropa
Pedagang Venesia pertama kali membawa kopi ke Eropa, pada tahun 1615. Periode ini adalah saat dua produk minuman hangat lainnya juga memasuki Eropa. Coklat adalah yang pertama, dibawa oleh orang Spanyol di tahun 1528 dan teh yang dijual pertama kali di Eropa pada tahun 1601.

Pada awalnya, kopi utamanya dijual oleh pedagang buah dan dipercaya memiliki kualitas medis. Kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia tahun 1683, dan sebuah kedai kopi yang sangat terkenal, Cafe Florian di Piazza San Marco, yang dibuka di tahun 1720 masih menjalankan bisnisnya sampai sekarang.

Kopi Masuk Amerika
Catatan awal kopi mulai diminum di Amerika Utara adalah pada tahun 1668 dan segera sesudahnya kedai kopi berdiri di New York, Philadelphia, Boston dan kota lainnya. Boston Tea Party rencana awalnya dimulai di kedai kopi, The Green Dragon, pada tahun 1773. Sedangkan New York Exchange dan Bank of New York juga didirikan di kedai kopi, sekarang daerah bisnis ini dikenal sebagai Wall Street.

Pada tahun 1720 kopi pertama kali dibudidayakan di Amerika, melalui cara yang mungkin paling berkesan dari cerita romantisme diseputar sejarah kopi.
Gabriel Mathieu de Clieu adalah seorang pelaut Perancis yang bertugas di Martinique dan pada tahun 1720 berlayar ke Paris. Sewaktu kembali, dia membawa sebatang pohon kopi bersamanya di atas kapal. Tanaman itu diperlihara di dalam wadah gelas di dek untuk menjaganya agar tetap hangat dan mencegah kerusakan akibat air laut.
Perjalananya sungguh berkesan, segerombolan bajak laut dari Tunis menyerang kapal, dan badai yang hebat datang sedangkan tanaman itu harus terus terikat kuat.

Pahlawan kita menghadapi bajak laut di kapal yang menginginkannya dan mencoba mensabotase tanaman itu. Ada pertempuran hebat sehingga cabangnya sampai patah, tapi tanaman itu selamat dari marabahaya. Kemudian kapal menjadi tenang dan air segar dibagikan, air tawar yang didapat de Clieu diberikannya sebagian besar untuk tanaman kopi tersebut. Pohon itu selamat, sebagaimana juga dirinya.

Akhirnya, kapal tiba di Martinique dan pohon kopi tadi kembali ditanam di Preebear, ia dikelilingi oleh pagar berduri dan diawasi oleh orang suruhan. Pohon itu tumbuh dan berkembang biak, dan pada tahun 1726 panen pertama telah siap. Tercatat bahwa pada tahun 1777 ada sekitar 18 dan 19 juta batang kopi di Martinique.

Tetapi, Belanda merupakan yang pertama kali mulai menyebar tanaman kopi di Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang mana sekarang daerah ini memperoleh keuntungan sebagai penghasil komoditas kopi utama di benua ini. Kopi pertama kali tiba di koloni Belanda, di Suriname pada tahun 1718, diikuti penanaman di French Guyana dan pertama kali di Brazil di Para. Pada tahun 1738 Inggris memperkenalkan kopi ke Jamaica yang sekarang menjadi kopi paling terkenal dan paling mahal di dunia, yang dibudidayakan di Blue Mountain.
Pada tahun 1825, Amerika Selatan dan Tengah berada pada jalan takdir dunia perkopian mereka. Tahun itu sangat penting ketika kopi pertama kali ditanam di Hawaii yang memproduksi satu-satunya kopi USA, dan merupakan salah satu produk kopi terbaik dunia.

Sejarah Kopi di Indonesia

Sejarah minuman kopi dimulai sejak satu juta tahun yang lalu di Ethiopia. Berdasarkan legenda, seorang penggembala mencoba mengkonsumsi biji kopi setelah melihat kambingnya tidak tidur akibat mereka memakan buah kopi liar.
Salah satu catatan tertulis pertama bercerita tentang Seikh Omar, yang membawa kopi ke kota Mocha pada tahun 1250. Kota ini, yang sering dipanggil Mukha, sekarang berada di Yaman modern.

Selama ratusan tahun, kopi di Yaman telah dicampur dengan kopi dari Indonesia (Jawa a.k.a Java), untuk menciptakan kopi klasik Mocha Java.

Kedai kopi pertama di dunia dibuka di Makkah pada awal abad 15. Kedai-kedai itu adalah tempat yang nyaman, tempat orang-orang memanjakan diri dan berdiskusi politik sambil menghadapi segelas kopi. Selama periode ini, kopi disajikan dengan merebus biji di dalam air. Praktik menghaluskan dan me-roasting kopi dimulai di Turki, sekitar 100 tahun kemudian. Di Istanbul yang terkenal memiliki ratusan kedai kopi.

Diketahui pula bahwa jemaah haji yang kembali dari beribadah di belahan dunia arab membawa bibit kopi ke India pada awal adab 16. Catatan tertulis menunjukkan bahwa Gubernur Belanda di Malabar (India) mengirim bibit kopi Yaman atau kopi arabika (Coffea arabica) kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1696. Bibit pertama ini gagal tumbuh karena banjir di Batavia. Pengapalan kedua biji kopi ke Batavia dilaporkan terjadi pada tahun 1699. Tanaman ini tumbuh, dan pada tahun 1711 eksport pertama dikirim dari Jawa ke Eropa oleh perusahaan dagang Belanda, dikenal sebagai VOC (Verininging Oogst Indies Company) yang didirikan pada tahun 1602. Selama 10 tahun, eksport meningkat menjadi 60 ton per tahun. Indonesia adalah tempat pertama kali kopi dibudidayakan secara luas di luar Arab dan Ethiopia. VOC memonopoli perdagangan kopi pada tahun 1725 sampai 1780.

Kopi tersebut dikapalkan ke Eropa melalui pelabuhan Batavia. Sebuah pelabuhan di Muara Sungai Ciliwung yang telah berdiri sejak 397 M ketika Raja Purnawarman mendirikan kota yang dulunya disebut Sunda Kelapa ini. Sekarang di daerah kota Jakarta, kita masih dapat menemukan gema dari peninggalan kehebatan para pelaut yang membangun Jakarta.
Kapal-kapal laut masih memuat kargo di pelabuhan tua itu sampai saat ini. Museum Bahari bertempat di bekas gedung VOC, yang dulunya dipakai menyimpan rempah-rempah dan kopi. Menara Syahbandar (mercusuar) dibangun pada tahun 1839 di ujung dermaga.  Dulu, kapal-kapal VOC berlabuh untuk memuat kargo mereka.

Pada tahun 1700-an, kopi yang dikapalkan dari Batavia dijual seharga 3 Gilders per kilogram di Ansterdam. Income tahunan Belanda di tahun itu sekitar 200 sampai 400 Guilders, hal ini sebanding dengan beberapa ratus dolar tiap kilogram saat ini. Di akhir abad 18 harga jatuh menjadi 0,6 Guilders per kilogram dan tradisi minum kopi meluas mulai dari kalangan elit sampai masyarakat kebanyakan.

Perdagangan kopi sangat menguntungkan bagi VOC, tetapi bermanfaat sedikit untuk petani Indonesia yang dipaksa menanamnya oleh pemerintah Kolonial Belanda. Secara teori, memproduksi komoditas eksport berarti menghasilkan uang bagi penduduk Jawa untuk membayar pajak mereka. Ini dalam bahasa Belanda dikenal sebagai Cultuurstelsel (Cultivation System) dan ini meliputi mulai dari rempah-rempah dan komoditas utama pertanian tropis yang sangat beraneka jenisnya. Cultuursstelsel untuk kopi diterapkan di daerah Prenger Jawa Barat. Pada praktiknya, harga untuk komoditas utama pertanian ini di-setting terlalu rendah dan mereka dipalingkan dari pekerjaan buruh yang memproduksi beras, yang menyebabkan situasi berat bagi petani.

Di pertengahan abad ke-17, VOC mengembangkan area tanam kopi arabika di Sumatra, Bali, Sulawesi, dan Kepulauan Timor. Di Sulawesi kopi pertama kali ditanam tahun 1750. Di dataran tinggi di Sumatra Utara kopi pertama kali tumbuh di dekat Danau Toba pada tahun 1888, diikuti oleh dataran tinggi Gayo (Aceh) dekat Danau Laut Tawar pada tahun 1924.

Pada tahun 1850, pegawai kolonial belanda, Eduard Doues Dekker, menulis sebuah buku berjudul “Max Havelaar and the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company” yang mengekspose pressurepada petani oleh pegawai-pegawai korup dan tamak. Buku ini membantu mengubah opini publik Belanda tentang “Cultivate System” dan kolonialisasi secara umum. Baru-baru ini nama Max Havelaar diadopsi oleh suatu organisasi fair-trade pertama.

Di sekitar abad 18, kolonial Belanda mendirikan lahan pertanian kopi yang luas di dataran tinggi Ijen di Jawa Timur. Meski demikian, bencana menghantam pada tahun 1876, ketika kopi diserang penyakit karat daun yang menyapu Indonesia, membumihanguskan tanaman sejenis. Kopi robusta (C. canephor var. robusta) diperkenalkan di Jawa Timur pada tahun 1900 sebagai pengganti di dataran yang lebih rendah dan penyakit karat sekoyong-koyong dibinasakan.

Pada tahun 1920, perusahan-perusahaan kecil di Indonesia mulai menanam kopi sebagai komoditas utama. Perkebunan di Jawa dinasionalisasi pada hari kemerdekaan dan direvitalisasi dengan varietas baru kopi arabika di tahun 1950-an. Varietas ini diadopsi oleh perusahaan-perusahaan kecil melalui pemerintah atau berbagai program pengembangan masyarakat. Sekarang lebih dari 90% kopi arabika Indonesia dikembangkan oleh perusahaan kecil terutama di daerah Sumatra Utara, dengan lahan 1 hektar atau kurang. Produksi arabika tahunan sekitar 75.000 ton dan 90% diekspor. Kopi arabika yang sampai ke negara lain sebagian besar masuk ke segmen pasar spesial.